Pillars of Eternity: Kebangkitan CRPG Klasik Modern

Dunia Eora yang Kelam dan Sarat Filosofi

Pillars of Eternity membawa Akang ke dunia Eora, tempat konsep jiwa bukan sekadar metafora, melainkan fondasi realitas. Konflik utama berpusat pada fenomena Hollowborn—anak-anak lahir tanpa jiwa—yang memicu keresahan sosial, politik, dan religius. Sebagai Watcher, karakter utama mampu melihat dan berinteraksi dengan jiwa, membuka lapisan naratif yang penuh misteri dan refleksi eksistensial. Dunia yang dibangun Obsidian terasa berat, dewasa, dan filosofis, jauh dari fantasi hitam-putih klasik. Setiap kota, kuil, dan benteng menyimpan sejarah panjang yang bisa digali lewat dialog dan buku-buku in-game. Atmosfernya muram namun memikat, dengan nuansa tragedi dan intrik yang konstan. Ini bukan fantasi cerah penuh heroisme sederhana, melainkan dunia rapuh yang mempertanyakan moralitas, iman, dan kebenaran absolut.

Sistem Real-Time with Pause yang Taktis

Berbeda dari CRPG turn-based modern, Pillars of Eternity menggunakan sistem real-time with pause. Pertarungan berlangsung simultan, tetapi Akang bisa menghentikan waktu untuk memberi perintah detail pada setiap anggota party. Mekanik ini menuntut perencanaan matang, terutama dalam pengelolaan positioning, buff, debuff, dan crowd control. Setiap class—dari Cipher hingga Chanter—memiliki identitas mekanik unik yang tidak terasa generik. Sistem perhitungan berbasis Accuracy dan Defense menggantikan lemparan dadu tradisional, menciptakan pendekatan lebih matematis dan konsisten. Tingkat kesulitan tinggi benar-benar menguji pemahaman taktik dan sinergi tim. Pertempuran bukan sekadar adu damage, melainkan manajemen sumber daya dan komposisi party yang presisi.

Build Karakter dan Kebebasan Role-Play

Game ini memberi fleksibilitas besar dalam membangun karakter. Background, budaya, dan atribut tidak hanya memengaruhi statistik, tetapi juga membuka opsi dialog spesifik. Akang bisa memainkan Watcher sebagai diplomat bijak, manipulator dingin, atau pragmatis tanpa kompromi. Sistem reputasi di berbagai wilayah RAJA 99 memengaruhi respons NPC dan akses quest tertentu. Companion juga memiliki kepribadian kuat serta pandangan moral berbeda yang bisa berbenturan dengan keputusan pemain. Tidak ada sistem moralitas hitam-putih; konsekuensi lebih subtil dan realistis. Kebebasan role-play inilah yang membuat setiap playthrough terasa personal dan unik.

Companion dan Narasi yang Mendalam

Companion dalam Pillars of Eternity ditulis dengan pendekatan naratif serius. Mereka bukan sekadar rekan tempur, tetapi karakter dengan trauma, keyakinan, dan agenda pribadi. Dialog panjang dan padat teks memperkaya pemahaman dunia sekaligus memperdalam hubungan emosional. Quest pribadi mereka sering kali mengeksplorasi tema identitas, iman, dan penebusan. Interaksi antar companion juga memperkaya dinamika party. Penulisan yang kuat menjadi kekuatan utama game ini, bahkan lebih dominan dibanding aksi pertempuran.

Presentasi Isometrik dan Warisan CRPG

Dengan perspektif isometrik klasik dan latar belakang pra-render detail, visualnya mengingatkan pada era emas CRPG seperti Baldur’s Gate klasik. Musik orkestra bernuansa kelam memperkuat atmosfer serius. Walau tidak se-sinematik RPG modern, kekuatan game ini ada pada kedalaman sistem dan narasinya. Pillars of Eternity berhasil membangkitkan kembali minat terhadap CRPG klasik di era modern, membuktikan bahwa pasar masih haus RPG kompleks dan berbobot. Ia menjadi fondasi kebangkitan genre yang kemudian diikuti banyak judul lain.